Memahami Hadis Tentang Alam Barzakh, Kehidupan Setelah Meninggal Dunia!

Hadis tentang alam barzakh diperbincangkan dengan segala rupa dan jumlahnya pun amatlah banyak dan beragam. Diantaranya adalah hadis dari Ibnu Umar R.A. yang menginformasikan pada kita tentang kemana ruh seseorang akan berdiam setelah mati.

Hadis-hadis yang telah di kabarkan Nabi tersebut merupakan peringatan bagi manusia yang masih hidup di dunia ini. Mereka senantiasa diingatkan dengan peristiwa yang akan terjadi setelah meninggal dunia.

Berita ini bukanlah tanpa maksud, hal ini bertujuan agar manusia mempersiapkan segala bekal yang akan digunakan saat menghadapi kehidupan selah kematian. Selain itu, terdapat juga peringatan bagi mereka yang lalai dalam menjali kehidupan sebagai hamba Allah SWT di dunia.

Apakah “alam barzakh” itu?

Suatu peristiwa yang tak dapat terelakkan lagi oleh manusia adalah kematian. Setelah menjalani kehidupan di dunia, manusia akan meninggal dan memasuki dunia baru yang sama sekali lain dengan dunia yang semula ditinggalinya.

Setelah meninggalkan dunia ini, “hidup” manusia masih terbagi pada beberapa fase atau periode: Periode “Menunggu”, dikenal dengan “alam barzakh”; Periode “Peralihan”, atau “kiamat besar”; Periode “Kebangkitan”, atau “mahsyar”; Periode “Pengadilan”, atau “hisab”; Periode Pembalasan, yakni dimasukkannya manusia ke dalam surga atau neraka, berdasarkan amalan-amalan yang diperbuatnya semasa di dunia.

Barzakh umumnya diartikan sebagai dinding, sekat, maksudnya pemisah antara dua alam yang berbeda. Dikatakan juga bahwa yang dimaksud dengan barzakh ialah masa sejak roh seseorang berpisah dari jasadnya sampai hari kebangkitan, sebagaimana firman Allah;

Al Qur’an Surah Al-Mu’minun : Ayat 99

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ

99. Hattaa idzaa jaa-a ahadahumu almawtu qaala rabbi irji’uuni

99. (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),

Al Qur’an Surah Al-Mu’minun : Ayat 100

لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

100. La’allii a’malu shaalihan fiimaa taraktu kallaa innahaa kalimatun huwa qaa-iluhaa wamin waraa-ihim barzakhun ilaa yawmi yub’atsuuna

100. Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan

Para ulama mengartikan alam barzakh sebagai “periode antara kehidupan dunia dan akhirat”. Maksudnya, keberadaan di sana memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan di sana bagaikan berada dalam suatu ruangan terpisah yang terbuat dari kaca. Ke depan penghuninya dapat melihat hari kemudian, sedangkan ke belakang mereka melihat kita yang hidup di pentas bumi ini.

Barzakh bersifat sementara, yaitu sampai tibanya hari kebangkitan. Karena, setelah datangnya hari tersebut, akan ada kehidupan lain lagi, yaitu kehidupan tahap terakhir, kehidupan di alam akhirat. Barzakh adalah kubur, pintu gerbang akhirat, dan ia meliputi seluruh macam pekuburan. Ada yang berkubur di tanah, di dasar laut, di dalam perut ikan, di dalam perut binatang buas bahkan burung, atau jadi abu yang diterbangkan oleh angin.

Dengan kematian, seseorang beranjak untuk memasuki saat pertama dari hari akhir. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa: “Siapa yang meninggal, maka kiamatnya telah bangkit.” Maka kiamat ini dinamai “kiamat kecil”. Saat itu yang bersangkutan dan semua yang meninggal sebelumnya hidup dalam satu alam yang dinamai dengan alam barzakh. Mereka semua menanti kedatangan kiamat besar, yang ditandai dengan peniupan sangkakala pertama

Ibnu Umar R.A menuturkan bahwa Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya (di akhirat nanti) pada pagi dan petang hari. Jika termasuk penghuni surga, maka ia akan menghuni surga, dan jika termasuk penghuni neraka, maka ia akan menghuni neraka. Dan dikatakan kepadanya: “Inilah tempat tinggalmu hingga Allah membangkitkanmu di hari kiamat”

Penjelasan Hadis tentang Alam Barzakh

Hadis di atas dengan jelas mengandung informasi akan adanya nikmat dan siksa kubur. Ia mengisyaratkan bahwa nasib seseorang setelah berada di alam sana (alam barzakh maupun alam akhirat) ditentukan semata-mata oleh amal perbuatannya selama ia hidup di dunia. Sebagaimana Firman Allah;

Al Qur’an Surah Al-Mu’min : Ayat 46

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

46. Alnnaaru yu’radhuuna ‘alayhaa ghuduwwan wa’asyiyyan wayawma taquumu alssaa’atu adkhiluu aala fir’awna asyadda al’adzaabi

46. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”

Dalam Tuhfah al-Ahwadzi disinggung bahwa faedah dari diperlihatkannya tempat tinggal seseorang, bagi orang-orang yang mu’min lagi taat pada Allah, ialah untuk memberikan kabar gembira bagi ruh-ruh mereka, bahwa mereka telah memperoleh balasan dan kedudukan yang tetap di alam akhirat nanti, yakni di surga

Tempat Ruh di Alam Barzakh

Bey Arifin dalam bukunya Hidup Sesudah Mati lebih jauh mengklasifikasi kondisi ruh di alam barzakh ke dalam beberapa tingkatan:

° Pertama, ruh para Nabi dan Rasul, yang menempati derajat tertinggi.
° Kedua, ruh para syuhada’, yang diumpamakan sebagai burung-burung hijau yang beterbangan dalam surga.
° Ketiga, ruh-ruh yang tertahan di pintu surga, karena suatu atau beberapa sebab tertentu.
° Keempat, ruh-ruh yang tertahan di kuburnya masing-masing.
° Kelima, ruh-ruh yang berkedudukan di pintu surga, dan menerima rizki dari Tuhannya tiap pagi dan petang.
° Keenam, ruh-ruh yang tertahan di permukaan bumi, dan ia tidak dapat kembali ke tempat yang lebih tinggi.
° Ketujuh, ruh-ruh yang tempatnya berada di lubang yang panas, dalam sungai darah, dan lain-lain, dan ia disiksa secara terus-menerus hingga hari kiamat

Share This:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*