Menjadi Pribadi Islam Yang Humanis

Mampu menata diri menjadi pribadi yang baik merupakan suatu tingkatan di mana kita bisa disebut sebagai manusia, karena fenomena kepribadian memberikan kekayaan pengalaman rasional, moral emosional, budaya dan penilaian. Manusia terkadang dapat mendorong diri mereka sendiri dengan upaya mereka sendiri. Artinya, mereka dapat membangkitkan diri sendiri dari berbagai dorongan. Sebagai masayarakat beragama (religious societies), maka selain dorongan dari kelompok, dorongan dari agama juga mendapatkan poin besar.

Hal ini bisa difahami dari banyak yang terjadi di kehidupan manusia, misalnya di Indonesia. Sebagai negara dengan pendudkuk Muslim terbesar di dunia, etos kerja, sistem kehidupan, pola fikir banyak dimotivasi dari agama. Termasuk yang terpenting adalah dorongan kemajuan sosial.

Bangsa Indonesia pun sebagai Muslim yang mempunyai nilai-nilai kemanusiaan sejati yang berlandaskan nilai ketuhanan. Nilai ketuhanan ini bisa dilihat dari wahyu Tuhan, al-Qur’an, yang ditunjukan kepada manusia untuk kesejahteraan manusia secara keseluruhan, Rahmatan lil’ ālamīn. Semua orang tentu mempunyai cara masing-masing untuk mengaplikasikan sifat kemanusiaannya itu yang tentu bergantung pada horizon setiap orang.

Islam sejatinya meyakini konsep takdir, konsep manusia sebagai sistem yang telah ditentukan. Namun keyakinan demikian bukan lagi masuk dalam perdebatan ketika Nabi Muhammad masih hidup, artinya beliau malah menjadi manusia yang aktif melakukan upaya yang sifatnya sosial-humanis.

Nabi Muhammad secara implisit telah mengejawantahkan dan memunculkan dirinya bukan hanya sebagai seorang agamawan namun juga sebagai seorang negarawan. Narasi sejarah mengenai perilaku beliau sungguh menyentuh hati para kaum Muslimin, hususnya prilaku agar memperkuat tali silaturahmi dan menjaga kebangsaaan.

Beliau memperlihatkan, bahwa nilai ketuhanan yang tidak bertolak belakang dengan nilai kemanusiaan, tetapi sebaliknya, ia mendorong manusia untuk menjadi manusia ‘sebenarnya.

Menjadi muslim yang baik juga berlaku pada bentukan sejarah dan penghayatan. Manusia memiliki pikiran tertutup, karena mereka memiliki segenap pikiran, produk lingkungan dan lain sebaginya. Sedangkan, Muslim yang humanis memberikan konsep manusia sebagai sistem terbuka, manusia dengan pikiran terbuka dalam menyapa hal baru, kesenangan baru, nilai, makna, afirmasi diri. Dengan demikian, Islam humanis, mengakui ”pikiran manusia” sebagai penentu prilaku, dengan sejumlah pusat otonom yang terfokus pada diri individu manusia

Seperti yang diajarkan agama, manusia adalah tidak hanya bekerja seperti jam yang memiliki muatan diri, aktualisasi diri, sepertihalnya kompas yang tidak melakukan aktualisasi diri namun berjalan seperti melakukan upaya transendensi kepada kekuatan yang melalui diri mereka, bahkan juga menggali sesuatu yang imanen di dalam diri mereka. Yang diinginkan manusia bukan sekedar beraktualisasi diri, melainkan hidup dengan sebuah peran dalam cerita manusia, ruang bermakna dalam perjalanan sejarah, arahan yang dirumuskan oleh kekuatan Allah.

Islam dan kemanusiaan sesungguhnya diisyaratkan menjadi tonggak lahirnya gerenasi Muslim yang baik. Sebagaimana yang disinggung dalam hadits yang artinya :

خير الناس أننفئهم لى الناس

“Sebaik-baik Manusia adalah manusia yang memberikan manfaat bagi manusia lainny”

Muatan hadits di atas difahami bahwa Muslim harus transpersonal, transhuman, lebih menekankan kepentingan dan kebutuhan manusia, melampaui kemanusiaan, identitas, aktualisasi diri dan lain sebagainya. Namun untuk menuju hal tersebut, beragama membutuhkan kematangan individu, dan keseimbangan mental dalam menghayatinya. Maka semua menjadi mungkin jika kita sebagai individu Muslim selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu, Sebagaimana Firman Allah;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ( Q.S. Al-Hujurat : 13 )

Dalam ayat di atas, al-Qur’an mengajarkan bahwa perbedaan bukalan permusuhan, pun itu perbedaan keyakinan. Paradigma al-Qur’an dalam proses membentuk masyarakat islami di Arab telah merubah segala sesuatu yang tidak memiliki nilai-nilai sejati insaniyyah, dengan mengembalikan pada tempat yang seharusnya manusia miliki sebagai manusia bukan manusia sebagai hewan dan makhluk lainnya.

Dalam tingkat psikologi, Al-Qur’an telah melakukan pergeseran kejiawaan masyarakat Arab dari an-naf al-ammara’ bi as-su’ (jiwa yang selalu memerintahkan pada kejelekan) menuju an-nafsu al-lawwamah (jiwa yang terkendali).

Nabi Muhammad S.A.W menyadarkan diri mereka dan memrintahkan mereka untuk menyesali diri, merenung dan sedikit menyapa jiwa mereka. Sehingga mereka menjai manusia yang memiliki jiwa yang terkendali

Share This:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*